April 17, 2024

Trendrays.com

Trend Info Terkini

Cerita Pilu Pasien Covid-19 Meninggal Dunia setelah Ditolak Sekitar 30 Rumah Sakit karena Penuh

Cerita pilu dari pasien Covid 19 yang kesulitan mencari rumah sakit kerap menjadi perhatian publik. Satu di antara pasien Covid 19 yang menjadi korban sulitnya mencari rumah sakit ialah ayah mertua Evi Dhevi Tyo. Warga Tangerang Selatan ini mengaku kesulitan mencari rumah sakit untuk keluarganya.

Padahal, dalam satu rumah, terdapat empat orang keluarganya yang terpapar virus corona. Sementara, ayah mertuanya, memiliki gejala yang cukup parah hingga perlu dibawa ke ICU. "Dari tanggal 19 Januari, kita sudah ke Satgas Covid Tangsel minta tolong (dicarikan rumah sakit)."

"Karena dalam satu rumah ada 4 orang yang terpapar Covid 19, tapi hanya papa yang bukan OTG dan batuknya agak keras, jadi kita khawatir banget," kata Evi, dalam tayangan Youtube Najwa Shihab, Kamis (28/1/2021). Evi pun terus meminta bantuan Satgas Covid 19 untuk mencari rumah sakit namun hasilnya masih nihil. Ayah mertua Evi pun tetap dirawat dirumah dengan keadaan seadanya sembari menunggu kabar baik.

Dalam keadaan itu, sang ayah hanya memiliki alat saturasi oksigen untuk memantau perkembangannya agar tetap diatas angka 95. "Kita tiap saat selalu cek saturasinya, sampai sudah dibawah 95, sekitar 84 dan 85, dan papa kita sudah lemes banget." "Akhirnya minta tolong ke Satgas Covid 19 karena butuh segera dikasih oksigen," kata Evi.

Dalam kondisi kritis itu, ayah mertua Evi rupanya dibawa ke sebuah puskesmas kecil untuk ditangani dengan segera. Namun, saat tahu kondisi puskesmas tersebut, Evi merasa sangat sedih. Pasalnya, puskesmas tersebut hanya memiliki fasilitas tabung oksigen dan infus saja.

Padahal, ayah mertua Evi dalam keadaan kritis yang harus segera ditangani di ruang ICU. "Kayaknya ngga akan bisa (ditangani di puskesmas), jadi aku langsung telepon beberapa rumah sakit di Tangerang Selatan." "Bahkan putra bungsu Papa yang ada di luar negeri telepon seluruh koleganya untuk dicarikan rumah sakit."

"Aku juga udah minta tolong ke Dinkes, karena hanya aku yang negatif," ujar Evi. Mirisnya, sudah sekitar tiga puluh rumah sakit yang dihubungi, tidak ada satu pun yang bersedia menampung ayahnya karena penuh. "Sekitar 30 rumah sakit (sudah dihubungi), saudara mama dari Surabaya juga kelimpungan nyari nyari rumah sakit tapi udah bener bener full."

"Ada satu rumah sakit yang waiting list, tapi Papa dapat nomor 22," tambah Evi. Ia juga sempat heran karena ada beberapa rumah sakit yang menjawab tidak memiliki ruang ICU. Padahal, setelah mencari tahu di internet, mereka adalah rumah sakit rujukan Covid 19.

Saat itu, Evi pun tak habis pikir bagaimana seluruh rumah sakit kompak menjadi penuh. Sementara, dalam masa pencarian ini, kondisi ayahnya sudah semakin menurun. "Jujur saja saya sudah putus asa, saya sudah bilang sama semua saudara saya, tolong carikan rumah sakit."

"Berapapun saya bayar, apapun bisa saya korbankan, asalkan papa saya bisa di ICU," ungkapnya. Di sisi lain, puskesmas tempat ayahnya dirawat juga ikut membantu mencari rumah sakit. Bahkan, Evi menuturkan, mereka ikut membantu hingga ke luar kota.

Namun sayangnya, setelah dua hari dirawat di puskesmas, ayah mertua Evi, meninggal dunia. Evi pun menyesalkan kejadian pedih ini sampai menimpa keluarganya. Sementara, ia melihat di tayangan televisi, banyak pejabat pemerintah seakan mudah mendapatkan rumah sakit.

"Yang saya sesalkan kenapa masyarakat biasa seperti saya nggak bisa dapat (rumah sakit)." "Di televisi kita lihat pejabat di ruang ICU, kenapa kalau kita ngga dapet sama sekali? Saya juga ngga tahu kenapa," ujar Evi. Padahal, ia menceritakan, ayah mertuanya ini telah mengabdi kepada negara selama 35 tahun.

Namun, di akhir hayatnya, ia justru tak dibantu oleh negara saat benar benar membutuhkan pertolongannya. "Papa mertuaku ini sudah mengabdi kepada negara selama 35 tahun lebih." "Tapi kenapa ketika dia sakit, kita minta tolong ke negara, ke rumah sakit negara, kenapa ngga ada yang nolong?" ujarnya.

Kendati telah mengikhlaskan ayahnya berpulang, namun rasa pedih dalam keluarga Evi masih amat terasa. Terlebih ketika mengingat, sang ayah hanya dirawat di puskesmas kecil dengan keadaan seadanya. "Walaupun kita sudah mengikhlaskan papa kita pergi, tapi memang dalam keadaan di puskesmas dengan alat seadanya itu kayaknya pedih banget," pungkasnya.